Tentang UKO

 

Perkenalkan, saya Ujang Koswara, biasa dipanggil Uko, putra Cicadas, salah satu perkampungan terpadat dunia di kota Bandung tercinta kita ini (ripuh tapi bangga, bangga tapi ripuh, keun wéh 😀).

Blog ini saya buat hanya sebagai kumpulan catatan, curahan pikiran dan klipping beberapa artikel yang mencatat nama dan kiprah saya. Saya membutuhkan log sederhana yang merekap kegiatan saya, agar saya tidak sulit membukanya kembali jika suatu saat saya butuhkan. Sebenarnya saya memang jarang sekali menulis, apalagi mengupdate status media sosial, saya lebih senang bercerita langsung bertatap muka. Namun sepertinya zaman menuntut saya mengikuti arahnya berlari dan saya pun mendesak diri untuk belajar, memulai dan paling tidak mengejar ketertinggalan saya di trend informasi. Kalaupun ada yang berkenan membaca, saya hanya berharap semoga blog ini bisa memberi manfaat seluas-luasnya.

Kiprah saya di bidang pengembangan Teknologi Tepat Guna (TTG) dimulai dari kegelisahan, gelisah akan masa depan saya sendiri. Saya berasal dari keluarga pendatang dari desa dan tidak berkecukupan, hijrah ke Bandung untuk mencari kehidupan yang lebih baik. Himpitan kesulitan hidup adalah keseharian kami, namun kami jalani apa adanya dan bahagia.

Satu hal yang ibunda saya selalu tekankan untuk tak pernah berhenti dikejar, yakni pendidikan. Sebagai bagian masyarakat bawah, saya masih beruntung bisa mengenyam pendidikan dasar, lulus sebagai sarjana ibarat lolos dari lubang jarum kehidupan, masalah lain siap menghadang.

Teorinya, melalui pendidikan, kesejahteraan pasti meningkat, pendidikan yang baik – formal atau tidak – sejatinya akan membawa perasaan yang ‘kaya’ walaupun miskin secara materi. Selama kita bergairah untuk berkreatifitas, bekerja dengan senang, Tuhan pasti akan memberi jalan. Itu yang selalui ibunda saya ajarkan. Prakteknya? Ternyata itu adalah hal lain. Jalan menuju keberhasilan jauh dari pandangan, berat rasanya untuk digapai. Semakin kita berjalan, jalan ke sana malah terasa semakin jauh.

Dari sekian banyak pengembangan TTG yang pernah saya lakukan, saya selalu menemukan kegelisahan-kegelisahan baru. Sejauh mana pengembangan yang saya lakukan bisa memberi manfaat? Apakah ini akan membuka pintu rezeki bagi keluarga saya? Bagaimana lantas saya bisa berbagi kalau saya sendiri punya perasaan yang ‘susah’? Bagaimana jika usaha saya gagal?

Bahagia Pangkal Kaya.

Naik-turunnya usaha menyebabkan saya dengan berat hati terpaksa membubarkan usaha yang juga menghidupi teman-teman saya. Saya kembali belajar untuk tidak merasa lagi ‘miskin hati’. Saya kembali mencari pendidikan hidup. Kali ini saya tidak takut untuk gagal lagi, karena saya pernah gagal sebelumnya.Saya coba kembali memulai dari nol. Hajar maang. Bismillah.

Hingga akhirnya tanpa terbayang sebelumnya, jalan terbuka bagi saya lewat pengembangan Limar, Listrik Mandiri Rakyat. Saya mulai menemukan jawaban dari berbagai pertanyaan saya di atas. Ketika kita sangat berambisi mengejar dunia, justru dunia menjauhi saya. Saya sadar, sebenarnya Tuhan sudah banyak menunjukkan kebenaran petunjukNya. Begitu banyak produk-produk ilmu pengetahuan yang bertebaran, tapi terberai – tak terpakai.

Niat yang kuat dan teknik ‘sederhana’ ternyata bisa memberikan manfaat nyata untuk banyak orang yang membutuhkan. Saya teringat kata Steve Jobs yang sekilas pernah saya baca kisahnya, “connecting the dots”. Ya, ternyata masih banyak saudara-saudara kita yang belum mendapatkan salah satu hak asasinya, yaitu penerangan.

Dot-dot ini yang saya coba hubungkan. Melalui kreatifitas dan orientasi solusi, bermacam gagasan bisa digabung dan dikombinasikan menjadi beragam solusi, untuk beragam masalah. Ketika kita bisa kolaborasikan dengan ide kawan-kawan yang lain, manfaat akan datang seperti bola salju yang semakin dekat akan semakin membesar. Jangan pernah bekerja sendiri, jangan sampai hanya kita saja yang merasakan manfaatnya.

Manfaat Membawa Nikmat.

Kembali, rangkaian perjalanan itu mengarahkan saya untuk kembali menyadari dan meyakini apa yang selalu ibunda saya tekankan, tentang betapa pentingnya pendidikan. Dengan pendidikan, kita bisa membuka banyak khazanah, menguak tabir dan membuka jalan ilmu-ilmu yang lain. Dengan pendidikan, kita bisa berkreasi dan berbagi manfaat. Ilmu tak dibatasi ruang dan waktu, siang-malam, terang-gelap. Saya tidak dilahirkan jadi seorang guru sebagai penyebar ilmu, bakat saya tidak di situ, tapi saya sangat menikmati bekerja membantu saudara-saudara kita mendapat penerangan, agar sekedar mereka bisa belajar di malam hari. Nikmat tiada terkira rasanya ketika hanya dengan sebuah karya kecil, kita bisa memberi manfaat yang luas.

Kesimpulan, carilah apa yang harus kita cari, tetap optimis, lakukan dengan rasa senang dan gairah tertinggi. Gairah dan semangat itu menjadi semakin berlipat di kala manfaatnya benar-benar nyata terasa.

Selebihnya Tuhan akan menunjukkan jalan…
Hatur Tengkyu Brader. Enjoy 😀

UKO.

PS: Ternyata sudah ada yang menulis profil saya di Wikipedia, Hihihi..