Listrik Mandiri Rakyat (Limar) menjadi cahaya di tengah kegelapan

Limar terangi wilayah yang tak terjangkau PLN di seluruh Indonesia

Ujang Koswara, penemu Limar, saat ditemui di kantornya di Bandung Barat. Foto oleh Yuli Saputra/Rappler
Ujang Koswara, penemu Limar, saat ditemui di kantornya di Bandung Barat. Foto oleh Yuli Saputra/Rappler

BANDUNG, Indonesia — Ujang Koswara sedang bersiap-siap berangkat ke luar kota saat ditemui Rappler di kantor Komunitas Laskar Pelita Jalan Kilimanjaro Kota Bandung, pada Rabu, 25 Oktober.

Di luar kantor, pria 49 tahun itu telah ditunggu puluhan relawan yang akan mendampinginya ke Desa Girimukti, Kecamatan Cipongkor, Kabupatan Bandung Barat. Mereka hendak menjalankan sebuah misi menerangi desa yang selama puluhan tahun Indonesia merdeka belum teraliri listrik.

Kondisi Desa Girimukti memang bisa dibilang ironis. Berada di provinsi terbesar di Indonesia, tak jauh dari ibu kota Jawa Barat, dan dekat dengan Waduk Saguling si penyuplai listrik Jawa dan Bali, Girimukti malah belum tersentuh Perusahaan Listrik Negara (PLN).

Ke sanalah, Ujang dan kawan-kawan menuju dengan membawa seratus boks perangkat penerangan yang diberi nama Limar, singkatan dari Listrik Mandiri Rakyat. Mereka akan memasang Limar di 100 rumah warga yang tergolong miskin.

“Malam ini akan ada pesta buat mereka, yang selama ini mengidam-idamkan cahaya,” ujar Ujang.

 

“Dengan cahaya, saya menyaksikan sendiri, setelah dipasang Limar, ada ibu-ibu yang masih menenun hingga jam 11 malam. Penghasilan meningkat 40 persen.”

 

Limar diciptakan Ujang pada 2008, yang merupakan hasil kolaborasi ide miliknya dengan keahlian seorang tukang reparasi elektronik langganannya. Setelah proses bongkar pasang selama 6 bulan, Limar akhirnya berhasil diciptakan dengan produksi pertama sebanyak 5.000 unit.

Limar terlahir berkat keprihatinan Ujang melihat rumah ibunya yang belum teraliri listrik karena tinggal di pelosok Garut. Ibunya sering mengalami kesulitan karena kondisi tersebut. Semua peralatan pembangkit listrik, seperti solar panel dan micro-hydro, sempat dibeli Ujang agar rumah ibunya bisa terang. Namun semua itu tidak bertahan lama.

Sampai akhirnya Ujang menemukan cara sederhana untuk penerangan yang kemudian dinamakan Limar.

“Kalau saya melihat ini [boks Limar], saya seperti melihat ibu. Sekarang ibu saya sudah meninggal,” tutur Ujang dengan nada sedih.

Satu boks Limar berisi seperangkat penerangan untuk satu rumah. Dalam setiap boksnya terdapat lima buah lampu LED (Light-Emitting Diode) dan accu yang dilengkapi dengan lima buah tombol. Masing-masing lampu berdaya terang 1 watt namun setara dengan terang 10 watt. Energi listrik guna menyalakan lampu-lampu itu berasal dari accu yang kekuatan energinya cukup untuk satu bulan.

Jika habis, accu tinggal di-charge selama tiga jam dengan menggunakan genset yang dikelola oleh warga sekitar. Satu genset untuk satu desa. Warga bisa mengisi ulang accu dengan membayar sebesar Rp2.000 hingga Rp2.500.

Biaya yang dikeluarkan warga untuk menerangi rumahnya dengan Limar jauh lebih murah dibanding menggunakan lampu templok yang menggunakan bahan bakar minyak tanah.

“Coba bayangin, kalau pakai minyak tanah, satu liter habis tiga hari, berarti sehari Rp5 ribu karena harga satu liter minyak tanah Rp15 ribu. Jadi dalam sebulan mereka harus mengeluarkan uang Rp150 ribu. Pakai Limar, nge-charge tiga jam untuk satu bulan, Cuma Rp2.000 atau Rp2.500,” kata mantan dosen Politeknik Swiss Institut Teknologi Bandung (ITB) ini.

Ujang menjelaskan, Limar diperuntukkan bagi masyarakat yang selama ini terpinggirkan dan tidak bisa dijangkau oleh PLN. Berdasarkan data Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), sebanyak 2.500 desa belum teraliri listrik. Di Jawa Barat saja, kata Ujang, sekitar 1 juta penduduk masih bergantung pada lampu templok.

“PLN bukannya tidak mau mengaliri listrik ke desa-desa terpencil. Tapi memang ada kendala yang dihadapi,” ungkap pria yang sempat menjadi PNS ini.

Kendala itu antara lain, sebut Ujang, mahalnya infastruktur, tidak adanya sumber energi di daerah tersebut, dan juga perhitungan bisnis. Sebagai sebuah perusahaan, PLN harus menguntungkan. Jika merugi, tentu akan memunculkan pertanyaan dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).

Di samping itu, beberapa kali proyek PLN di daerah terpencil tidak berkelanjutan. Pasalnya, masyarakat yang menjadi sasaran kebanyakan warga miskin yang tidak mampu membayar listrik setiap bulannya.

“Baru sebulan dialiri listrik, sudah diputus lagi sama PLN karena enggak bisa bayar listriknya,” tutur Ujang.

Persoalan-persoalan itulah yang sering ditemukan Ujang di lapangan. Hingga akhirnya, Ujang menciptakan Limar yang ditujukan bagi masyarakat yang tak terjangkau PLN.

Dengan biaya Rp1,2 juta rupiah per rumah, warga bisa mendapat penerangan yang memadai. Namun dengan bantuan dana Corporate Social Responsibility (CSR) hasil “ngamen” Ujang ke berbagai perusahaan, termasuk PLN, warga marjinal bisa mendapatkan Limar secara gratis.

Warga pun bisa mendapatkan penerangan lebih cepat, karena pemasangan Limar hanya membutuhkan waktu beberapa jam saja.

Dari kacamata teknologi, Ujang menjelaskan, Limar sangatlah sederhana. Saking sederhananya, seseorang bisa menjiplaknya dengan mudah. Namun di balik kesederhanaannya, ada ide dan konsep yang mahal.

“Memang dilihat dari barangnya, betul tidak ada apa-apanya. Tapi Limar mempunyai konten. Ruhnya adalah aktivasi manusianya. Jangan lihat perangkatnya, ini bukan apa-apa. Tapi dalam satu boks Limar ini terdapat nilai gotong rotong, bela negara, kesetaraan, kebanggaan, dan pergerakan ekonomi,” ungkap Ujang.

Nilai gotong royong, jelas Ujang, karena dalam prakteknya Limar melibatkan banyak pihak. Ada anak-anak putus sekolah dan lulusan SMK yang memproduksi Limar, relawan yang ikut membantu memasang Limar, aparat TNI yang turun membantu demi pengabdian pada rakyat, dan pihak swasta yang memberikan dana CSR.

Warga yang menjadi sasaran juga bisa merasakan kesetaraan saat rumahnya terang seperti rumah-rumah di perkotaan. Anak-anak sekolah bisa belajar dengan baik dan kegiatan ekonomi pun berjalan maksimal.

“Dengan cahaya, saya menyaksikan sendiri, setelah dipasang Limar, ada ibu-ibu yang masih menenun hingga jam 11 malam. Penghasilan meningkat 40 persen. Ekonomi bergerak, pendidikan bergerak, kesehatan pasti sehat. Itu hanya karena terang saja,” kata Ujang.

Sejak diciptakan pada 2008, Limar telah memberi penerangan pada 260 ribu rumah di berbagai pelosok tanah air mulai dari Sabang sampai Merauke. Di daerah-daerah yang telah dikunjunginya, Ujang tidak hanya meninggalkan Limar sebagai sebagai produk saja, tapi juga Limar sebagai sebuah keterampilan. Ujang mengajarkan bagaimana cara merakit dan memproduksi Limar kepada warga sekitar.

“Para pemudanya dikaryakan. Jadi di setiap daerah ada center-center produksinya. Dan mereka memproduksi sendiri barangnya. Saya di quality control karena komponennya harus benar,” tutur pengusaha di bidang manufaktur itu.

Ujang mengaku tidak mengambil keuntungan sepeser pun dari hasil penjualan Limar. Semua keuntungan diserahkan seluruhnya kepada pembuat Limar yang merupakan anak didiknya. Sebagian besar anak didiknya berasal dari kelompok marjinal, seperti penghuni lapas, lulusan SMK yang nganggur, dan anak-anak putus sekolah.

Bagi Ujang, bukan kekayaan yang dicari, tapi kebahagiaan. Ujang hanya berharap, pengabdiannya demi menerangi negeri ini, membuatnya menjadi orang yang bermanfaat bagi sesama.

“Yang jelas targetnya cuma satu, saya ingin ibu saya tidak merasa menyesal melahirkan saya,” kata Ujang lirih. —Rappler.com

Repost dari Artikel