Dekat PLTA Saguling, Ratusan Keluarga Belum Teraliri Listrik

Gelap/HENDRO SUSILO HUSODO/PR
Karyawan OCBC Group dan Yayasan Ukologi memasang instalasi listrik di Kampung Ciburahol, RT 2 RW 1, Desa Girimukti, Kecamatan Cipongkor, Kabupaten Bandung Barat, Kamis 26 Oktober 2017.

NGAMPRAH, (PR).- Kendati hanya berjarak belasan kilometer dari PLTA Saguling, ratusan rumah di Desa Girimukti, Kecamatan Cipongkor, Kabupaten Bandung Barat belum memiliki sambungan listrik. Pemasangan listrik dari PLN  ke areal sekitar PLTA Saguling terkendala oleh bentang alam, sedangkan program listrik desa (Lisdes) tahun ini tak menyentuh Girimukti.

Kepala Desa Girimukti Asep Sugilar mengatakan, pada 2016 lalu terdapat 600 keluarga yang rumahnya belum berlistrik. Program Lisdes dari Pemkab Bandung Barat kemudian membantu pemasangan listrik bagi 75 keluarga. Sementara dari Pemprov Jawa Barat membantu listrik untuk 50 keluarga. Namun, untuk tahun ini bantuan Lisdes itu tidak ada.

“Karena daerah di sini berbukit dan berlembang, jalur listrik itu banyak yang tidak sampai ke rumah. Sebagian posisi rumah memang memojok, sebagian lagi rumah baru, walaupun memang ada juga rumah yang belum punya meteran listrik sendiri. Jadi mereka pakai listrik di rumah lain, tapi memang ada juga yang benar-benar tidak pakai listrik,” kata Asep di kantornya, Kamis 26 Oktober 2017.

Menurut dia, sekitar 425 keluarga yang belum memiliki meteran listrik itu terdapat di sembilan RW. Jumlah terbanyak berasal dari RW 9 Kampung Cibuni Loa. Di satu RW itu, kata dia, ada sekitar 220 keluarga yang belum memiliki listrik. Bahkan, pernah ada satu keluarga yang selama empat tahun tidak menggunakan listrik sama sekali.

“Ada satu rumah yang rumahnya di atas bukit, yang dihuni oleh sepasang suami isteri sudah lanjut usia. Mereka pindah ke situ, karena rumahnya dipakai oleh ahli waris yang masih sekeluarga. Mereka empat tahun hidup pakai lampu cempor buat penerangan. Jadi pakai minyak kelapa yang dikasih kapas dan pakai lilin buat pengganti lampu. Baru tahun lalu persoalan listrik mereka teratasi,” katanya.

Menurut Asep, pemerintah desa sudah berupaya memenuhi kebutuhan listrik, termasuk untuk pengajuan program lisdes pada tahun ini. Akan tetapi, tahun ini tak ada bantuan lisdes di Girimukti. “Mengajukan ke PLN juga sudah, tapi tetap susah. Buat satu tiang listrik itu, PLN biasa memasang kabel buat 10 rumah. Sementara kondisi di sini, buat 15 rumah itu diperkirakan perlu 20 tiang listrik,” tutur dia.

CSR sambungan listrik

Oleh karena itu, dia menyambut baik program corporate social responsibility dari Bank OCBC NISP bersama OCBC Group, yang bekerja sama dengan Yayasan Ukologi. Dari CSR itu, sebanyak 100 keluarga terbantu oleh pemasangan listrik di rumahnya.

“Di Girimukti baru sekarang ada CSR. Sisanya berarti ada 375 keluarga lagi yang belum berlistrik,” ujar kepala desa.

Kepala Divisi Komunikasi Perusahaan Bank OCBC NISP Aleta Hanafi mengatakan, pemberian CSR bagi 100 keluarga di sekitar PLTA Saguling yang belum berlistrik di Girimukti melibatkan sekitar 50 karyawan, termasuk karyawan OCBC Group di Singapura. Para pegawai tersebut diajak menjadi sukarelawan yang memasang instalasi listrik.

“Kepada setiap keluarga, kami memberikan satu paket Limar atau Listrik Mandiri Rakyat, yang terdiri atas komponen elektronik ramah lingkungan yang memiliki nilai ekonomis. Untuk mendukung penerangan di rumah warga, Bank OCBC NISP juga memberikan bantuan berupa genset, accu, dan charger analog,” kata dia.

Pendiri Yayasan Ukologi Ujang Koswara menyebutkan, satu paket Limar mencakup lima unit lampu LED berdaya 1 Watt yang mampu berumur sampai 10 tahun. Lampu tersebut menggunakan baterai mobil yang hemat biaya, karena untuk mengisi daya listrik cukup dengan men-charge selama tiga jam, yang bisa dipakai selama sekitar satu bulan.***

 

Repost dari Artikel