Kreatif itu Fitrah.

Beberapa kali saya diundang kawan-kawan untuk menjadi narasumber di berbagai seminar atau forum diskusi di beberapa kota di Indonesia baik independen maupun formal. Entah kenapa kawan-kawan selalu menilai saya sebagai pegiat usaha kreatif, walaupun saya selalu merasa apa yang menjadi kiprah saya berjalan alami tanpa banyak tanpa banyak diembel-embeli hal yang sering disebut “kreatif” itu.

Kreatif menjadi istilah seksi beberapa tahun ini, seringkali digunakan sebagai identitas kegiatan atau usaha yang dianggap keren, gaul atau inovatif dan sebagainya. Tak dipungkiri eksistensinya hingga negara pun kemudian membentuk satu kementerian atau badan khusus untuk mulai menanggapi serius bidang kreatif ini. Semangat dan geliat kawan-kawan muda untuk berwirausaha secara independen dengan lambat tapi pasti menjadi satu gelombang besar yang bisa berkontribusi bagi pembangunan. Ini saya setuju dan patut disyukuri.

Yang menarik, salah satu bukti hebatnya semangat independen ini adalah ketahanan sektor usaha kecil yang bertahan di tengah krisis (1998). Mereka tidak bergantung pada sektor keuangan yang pada saat itu tata-kelolanya sedang tidak baik, diperparah anjloknya nilai tukar rupiah-dollar AS dan situasi politik yang tidak stabil. Mereka justru menjadi permata dalam genangan lumpur gelap. Mereka seolah tak tersentuh krisis karena berjalan mandiri walapun kecil-kecilan. Mereka membangun ekosistemnya sendiri. Ini menarik dan bisa menjadi referensi utama kita dalam mengembangkan usaha kreatif ke depan.

Kreatif itu Fitrah.

Manusia secara naluri akan merespon tantangan untuk bisa bertahan hidup.
Challenge and Response, – Arnold Toynbee

Kalau saya mengacu apa yang dikatakan Arnold Toynbee dalam simpulan teorinya di atas, bolehlah saya mengatakan bahwa manusia memang dibekali kemampuan untuk mengatasi masalah. Dan bolehlah pula saya tarik kesimpulan awal bahwa kreatif itu adalah fitrah. Ini yang akan jadi landasan berpikir tulisan singkat ini.

Manusia lahir dengan bekal dan karunia berupa cipta (kekuatan imajinasi), rasa (kepekaan batin, emosi) dan karsa (kemauan, inisiatif). Tridaya inilah yang membedakan makhluk yang bernama manusia dengan makhluk lain. Artinya? Tuhan Maha Kuasa memang mentakdirkan manusia untuk bisa menyelesaikan berbagai tantangan hidup, menjadi khalifah di muka bumi. Semua penyakit pasti ada obatnya, semua masalah ada solusinya, tinggal sejauh apa usaha manusia memecahkan misterinya.

Dari pemahaman ini kemudian saya meyakini, bahwa apa yang disebut kreatif ini seharusnya bukanlah sesuatu yang luar biasa. Karena kita sudah terlahir dengan itu. Bukan saya mencoba menafikkan, tapi saya agak heran kenapa kesadaran ini baru muncul? Kenapa kok baru nge-trend ya? Karena menurut saya ini bagian dari pemahaman karakter, fondasi penting dari pendidikan, bagian terpenting dari eksistensi manusia. Pemahaman sederhana ini pula yang melatarbelakangi kiprah saya hampir 15 tahun terakhir ini. Saya berusaha untuk bertahan hidup.

Karena sifatnya yang fitrah, kreatifitas tidak mengenal tempat dan jaman. Kita bisa dengan mudah menemukan orang-orang kreatif hebat di berbagai belahan bumi ini, bahkan di kawasan kumuh sekalipun. Tidak sedikit inovasi hebat yang dibidani di warung kopi. Kreatifitas lalu akan diterjemahkan ke dalam banyak bentuk dan bahasa oleh setiap orang, lalu dikembangkan secara unik sesuai konteks dan latar belakangnya. Barulah di sini faktor lain ikut menentukan; bakat, karakter, pendidikan, lingkungan, budaya hingga tantangan alam, dan sebagainya.

Niat adalah Modal
Sedianya karena kreatif itu bawaan lahir, namun masih berupa potensi, belum teraktivasi. Banyak hal dari potensi-potensi yang kita punya sejak lahir yang masih tersimpan, utuh, terkubur, atau bahkan terkikis dan lalu hilang jika kita tidak segera menyadari dan menumbuhkannya. Dorongan untuk memunculkan potensi dalam diri seringkali hanya kuat ketika manusia dihadapkan dengan pilihan yang sempit dan tidak menguntungkan kondisinya saat itu, istilah lainnya adalah kepepet. Ketika terdesak, dorongannya akan semakin kuat, niatnya untuk bertahan dan menyelamatkan keadaan semakin konkrit.

Maka atas itu, saya percaya, yang sebenarnya menjadi modal adalah niat. Sebesar apakah niat kita untuk berbuat sesuatu? Atas niat apa kita melakukan satu tindakan? dan sebagainya. Niat-lah yang mengaktivasi potensi menjadi energi yang lebih besar. Tak usah berbusa panjang lebar, banyak tersebar cerita atau pengalaman inspiratif orang-orang hebat yang bisa mengubah dunia hanya dimulai dengan sebuah niat.

Di sini kemudian dibutuhkanlah peran pendidikan untuk memupuk nilai-nilai kebaikan agar potensi-potensi terbaik seseorang bisa muncul, tumbuh dan berkembang. Pendidikan yang baik biasanya akan menjadi landasan seseorang untuk selalu berniat baik. Pendidikan adalah bentuk aktivasi potensi manusia.

Karya adalah Cara
Niat yang kuat kemudian akan menggerakkan semua daya dan upaya mewujudkan imajinasi, melalui? Ya, melalui sebuah karya. Dalam kerangka ini, saya selalu mengartikan bahwa karya adalah sebuah cara, langkah, bisa berwujud atau tidak tapi dapat dirasakan keberadaannya. Bukan tujuan akhir.

Karya juga adalah kolamnya curahan cerita, rencana, tujuan, proses, kerja dan dinamika yang berlangsung dalam usaha mengkonkritkan niat. Kalau niat itu hanya kita dan Tuhan saja yang bisa merasakan, tapi sebuah karya melibatkan juga faktor lain; usaha fisik, curahan pikiran/gagasan dan bahkan kolaborasi antar individu.

Karya juga adalah wujud pembuktian dari sebuah niat, menguji kebenaran dari hal yang kita niatkan. Karya adalah proses kreasi dan pembelajarannya. Kegagalan adalah sahabat terdekat proses karya ini, lakukan lagi, lagi dan lagi. Kegagalan adalah juga bagian dari proses ini.

Dari sini kita bisa melihat. Kalau niatnya baik dan tulus, segala hal yang akan terjadi atau muncul dalam sebuah proses karya niscaya akan mengkerucut pada hal positif. Niat positif akan membangun semangat dan energi positif menuntaskan karya. Begitu juga sebaliknya.

Manfaat adalah Buahnya.
Satu siklus kreatif tidak berhenti di titik ketika karya terwujud. Tidak cukup hanya sampai di situ. Si karya ini kemudian harus menemukan jati diri dan menempatkan diri dalam kehidupan manusia dan permasalahannya. Sebuah karya harus benar-benar membuktikan bahwa semua asumsi, teori, fungsi dan teknik yang terkandung di dalamnya bisa berjalan dengan baik secara harmonis. Ya benar, sebuah karya harus benar-benar memberikan manfaat. Manfaat inilah yang bisa kita sebut sebagai solusi, bukan hanya karyanya semata.

Ini realitanya. Ini pembuktian sebenarnya. Ini adalah pencapaian tertinggi dari fitrah kreatif seorang manusia. Melalui karya manusia ber-ikhtiar, mencari manfaat/makna dari karyanya. Dengan pencarian manfaat ini, manusia bisa menemukan jati dirinya, menemukan misi hidupnya.

Namun sudah menjadi sifat manusia untuk tidak cukup hanya dengan satu pencapaian. Setiap solusi yang dihadirkan akan selalu diikuti oleh munculnya masalah-masalah baru, kemunculan orang hebat baru dan begitu seterusnya. Ini adalah siklus peradaban. Sebagai manusia yang kreatif, carilah selalu momentum dan kesempatan untuk menorehkan rekam jejak yang baik agar sejarah mencatatnya.

Terakhir. Bagi saya apa yang saya geluti 15 tahun terakhir ini adalah sebuah eksperimen hidup. Kita semua sedang mencari apa yang seharusnya benar-benar kita cari. Kreatif adalah bekal yang sudah lebih dari cukup, kita hanya harus selalu sadar dan tak henti untuk mengkativasinya, memberdayakannya. Manusia yang tidak kreatif dengan sendirinya akan tergilas perubahan jaman, karena tidak menyadari fitrahnya sebagai manusia.

Sampai jumpa di catatan berikutnya.
Hatur nuhun.