Kreativitas dan Inovasi Mendukung Suksesnya Konservasi Energi (Bagian 3-Habis)

gus mus
Gus Mus (KH. Ahmad Mustofa Bisri) = menerima kiriman lopgistik lampu Limar. Pondok Pesantren Raudlatuh Tholibin, Leteh, Rembang telah menghemat 60% penggunaan listrik.

DUA tulisan terdahulu mengulas sedikit tentang Limar. Selain sebuah produknya, Limar merupakan sebuah monumen inovasi dalam konservasi energi.

Seperti kita sepakati bersama, bahwa ilmu pengetahuan hendaknya berguna bagi penemuan untuk membantu menjalani aktivitas sehari-hari (Jujun Suriasumantri dalam Sri Soeprapto, 2003: 90). Lebih jauh, ilmu pengetahuan harus berdampak jangka panjang menuju peradaban yang madani.

Limar atau listrik mandiri rakyat tak terlepas dari nama pendirinya, Ujang Koswara. Ialah sosok pendobrak sistem yang lama berlangsung. Di mana teknologi dikemas amat mahal dan sulit terjangkau kaum pinggiran.

Ujang memberdayakan anak-anak putus sekolah dan warga binaan lembaga pemasyarakatan, yang galau akan tujuan hidup. Orang-orang dengan kesulitan menyesuaikan akan iklim sosial perkotaan yang serba materialistis. Ibu-ibu rumah tangga pun ditawarkan punya andil untuk memproduksi lampu bantuan bagi mereka yang tinggal di pelosok.

Mengutip tulisannya Ujang di situs ukologi.com, ia memandang lampu Limar dan produk-produk lainnya hanya menjadi sebatas medianya saja, perangkatnya saja. Justru hal terpenting dari Limar adalah faktor manusianya. Ketika manusia dibangun eksistensinya, apapun bisa terjadi.

“Bayangkan apa yang terjadi jika hal ini dilakukan secara kolektif, komunal. Banyak desa bisa terang dan hidup. Maka itu boleh saya berucap, sisi terpenting dari sebuah pembangunan adalah mengaktivasi manusia, membangun eksistensi, karena semua manusia membutuhkan pengakuan sesamanya,” kata Ujang.

Saat berbincang beberapa waktu lalu, Ujang Koswara memaparkan bahwa anak-anak binaannya mendapatkan pembayaran profesional atas pekerjaannya merakit instalasi lampu. Namun menurut Ujang, hal yang diapresiasi dari pekerjaan baru mereka ialah eksistensi. “Bagi mereka, kekayaan itu tidak penting. Yang lebih penting adalah eksistensi. Seperti mereka pernah jadi anak jalanan, mereka tidak menyesalinya. Tapi, itu jadi kenangan terindah, karena di jalan mereka eksis. Sekarang juga eksis dalam kebaikan untuk sesama,” ujarnya.

kompor-listrik
Hawuko. Credit: Ramdhani-Pojoksatu

Inovasi yang berangkat dari kearifan lokal

Masyarakat di pedesaan Sunda, masih banyak yang mengandalkan kayu bakar untuk memasak di tungku, yang kami sebut hawu. Mengutip seorang perajin, hawu terbuat dari tanah liat dicampur tapas/serabut buah kelapa, dan bakaran dedak (sumber: http://www.pikiran-rakyat.com/ekonomi/2014/11/09/303978/perajin-tungku-berlangsung-turun-temurun). Saya sering memasak di hawu saat berkunjung ke rumah singgah di Desa Cikoneng, dekat pintu wisata Batu Kuda Gunung Manglayang.

Selain kayu bakar, kita juga dapat memasukkan sampah plastik dan kertas ke dalam hawu saat memasak. Apinya merah membara, sehingga siap-siap saja membuat pantat panci atau wajan hitam. Sedikit sekali minyak tanah yang dibutuhkan karena kertas dan plastik sangat mudah terbakar. Kekurangan hawu adalah bentuknya yang memakan tempat, sehingga biasanya hawu ada di dapur yang cukup luas, atau ditemukan begitu saja di sisa tanah pemilik rumah.

Teknologi hawu menginspirasi Ujang untuk membuat hawuko—singkatan dari hawu kompor. Ia memodifikasi kompor kecil dengan celah di pinggir, untuk memasukkan sampah.

“Masaknya seperti di hawu tapi kayak kompor aja, dimasukin sampah dari celah di pinggir,” kata Ujang menerangkan. Uniknya, pengguna hawuko dapat menge-charge handphone dari tenaga panas yang dihasilkan kompor.

Ujang yang juga pembina Universitas Kehidupan Otonom ini, menjelaskan bagaimana listrik dari hawuko dapat menyalakan lampu dan isi baterai handphone. Dengan elemen khusus, panas bara api itu dikonversi menjadi energi listrik yang kemudian disalurkan ke generator listrik. Kata Ujang, cara kerja dasarnya meniru mesin dispenser air.

Tidak boleh dijual oleh…

Ia pun mengajarkan ilmu pembuatan hawuko yang berbahan limbah kaleng cat ke masyarakat di pelosok berbagai pulau di Indonesia. “Saya tidak jual hawuko tapi beri pelatihan gratis ke masyarakat. Kalau masyarakat mau jualan kompor silakan. Kalau korporat besar yang jualan ini jangan,” kata dia. Soalnya, Ujang menegaskan, kreativitas itu hendaknya membangkitkan taraf hidup orang.

Api yang dihasilkan memang belum seberapa,  namun jika dalam produksi massif, listriknya sangat berguna bagi penerangan rumah yang lebih besar. Misalnya, hawuko dikembangkan, di industri rumahan produsen keripik, dodol yang produksi apinya lama dan besar. Maka untuk penerangan pabrik pun cukup mengandalkan listrik dari hawuko.

Ke depan, Ujang masih punya mimpi untuk terus berinovasi dalam menolong masyarakat kecil. Seperti pengaplikasian rumah kaca untuk pemanas ikan asin yang efektif bagi nelayan. Soalnya, ia sering bertemu nelayan yang mengeluhkan ikan asinnya kurang kering dan berulat meski telah dijemur 3-4 hari. “Dengan rumah kaca, ikan asin bisa cepat kering dalam 2 jam saja,” kata dia.***

 

Repost dari Artikel