Limar, Eta Terangkanlah, dan Penghematan Minyak Tanah (Bagian 2-Bersambung)

YouTube Jokowi

SETELAH membaca ulang postingan saya sebelumnya, tiba-tiba terngiang lirik parodi lagu Opick-Husnul Khatimah.

Eta terangkanlah/Eta terangkanlah

Ingin ketawa (karena parodinya) tapi kok sakit ya? Soalnya sambil mengingat bahwa ada saudara kita di negara yang sama, di belahan dunia yang sama masih hidup dalam gulita. Belum ada listrik sampai sana. Belum ada penerangan memadai. Ada juga lampu tempel, yang kalaupun menyala, asapnya bikin batuk dan mata perih.

Di kota, apa jadinya roda ekonomi tanpa adanya pasokan listrik yang stabil? Kita akan kesulitan ke kamar mandi pada dini hari hingga pagi, untuk mempersiapkan kebutuhan sekolah, kerja, berdagang, dan lain-lain. Makanan akan mudah busuk karena tidak disimpan di kulkas, memasak nasi sangat memakan waktu lama, memompa air masih memakai tangan. Yang terpenting,  handphone dan komputer yang tidak selalu bisa menyala. Ayo, itu semua kebutuhan kita saat ini kan?

Dalam cerita Ujang Koswara yang saya wawancara tempo lalu, ia berujar pernah mendistribusikan lampu mandiri miliknya ke Cililin, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. Di salah satu provinsi termaju Indonesia, dengan gubernur bertaburkan penghargaan, ada sekelompok warga yang kesulitan pasokan listrik. Mirisnya, kampung tersebut ada di dekat pembangkit listrik yang dipasok ke berbagai daerah, yakni Waduk Saguling. Eta terangkanlah Ya Allah~

“Bagaimana kita bisa pintar kalau gelap? Mau belajar apa kalau gelap? Mau produksi apa kalau gelap? Makanya, lebih baik 1 watt hari ini daripada 100 watt lima tahun lagi,” kata Ujang Koswara, pimpinan Yayasan Listrik Mandiri, di sela-sela obrolan kami.

Ujang, seperti yang saya kisahkan sebelumnya, ialah seorang aktivis yang memberdayakan ibu rumah tangga, anak jalanan, karang taruna, dan narapidana. Mereka dididik dan diberdayakan untuk merakit lampu Limar (singkatan dari listrik mandiri rakyat). Lampu bertenaga baterai yang didistribusikan bagi warga pelosok yang belum tersentuh listrik. Harga lampunya satu rangkaian Rp 1,2 jutaan. Tapi warga pelosok tidak perlu membelinya, karena ada dana CSR yang siap membelikannya.

Seperti apa lampu Limar bekerja?

Satu set instalasinya terdiri dari lampu LED—yang seluruh komponennya dibuat orang-orang tadi. Lampu LED ini tidak sama dengan yang ada di pasaran. Hanya bisa dinyalakan oleh akumulator (aki) mobil.

bccf_jokowi_01
Ujang Koswara presentasi soal Limar kepada Presiden Jokowi dan Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan. Credit: Ukologi.com

Satu set terdiri dari lima lampu yang biasanya digunakan di teras, ruang tamu, kamar, dapur, dan kamar mandi. Warga bisa menambah aliran ke sambungan charger baterai handphone.

Ia menjelaskan, aki Limar sebulan sekali harus di-charge baterainya selama tiga jam. Ujang berani mematenkan garansinya hingga 10 tahun. “Saya tidak memberikan garansi 2-3 tahun kalau mati langsung diganti. Sampai saat ini, dari (pertama kali beroperasi) 2008 belum pernah ada yang ganti,” kata dia.

Tips perawatannya sama seperti aki mobil. Selama tidak lupa kasih air, maka aki tidak akan rusak. Limar yang disalurkan Ujang, membutuhkan sedikitnya biaya charge Rp 2.000 untuk kebutuhan sebulan. Di kantor desa, tersedia sebuah genset kecil yang bermodal bensin.

“Ada genset kecil, cukup satu liter untuk delapan aki, yang artinya bisa dipakai di delapan rumah. Beli satu drum, bisa satu tahun habisnya. Daripada genset nyala terus untuk lampu, kan,” ujar dia. Andai kemudian hari instalasi listrik PLN masuk desa tersebut, maka warga hanya perlu membayar sisanya. Misalkan untuk membayar listrik bagi penggunaan kulkas, televisi, dan lain-lain.

Konservasi energi

Apa yang dijalani Ujang Koswara sejalan dengan semangat konservasi energi yang digalakkan Kementerian Energi dan Sumber Daya MineralKementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. Indonesia darurat energi berbahan fosil. Persediaan batu bara saja, berdasarkan data dari situs Kementerian ESDM, hanya akan bertahan sampai 2050. Pada tahun itu, kemungkinan besar Indonesia mulai mengimpor batu bara.

pasokan listrik
Sumber: calculator2050.esdm.go.id/pathways/

Dalam grafis yang disajikan Ditjen Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi KESDM, kebutuhan impor minyak mentah termasuk minyak tanah Indonesia meningkat pesat. Dari 2011, ketergantungan impor minyak sampai 46% dan naik menjadi 65% pada 2015. Jumlahnya diprediksi terus naik hingga 80% karena pasokan energi bertenaga minyak bumi sampai 2015 sebanyak 1.220,96 Terawatt per tahun.

Jika kita belum merdeka dari ketergantungan minyak tanah, maka pada 2020 kebutuhannya naik jadi 1.508,21 Terawatt per tahun. Menurut data di Badan Pusat Statistik hingga 2010, sumber impor minyak tanah ke Indonesia yang paling besar ialah Singapura

Faktanya di pelosok, warga desa di perbatasan sangat menggantungkan hidup pada minyak tanah. Namun, kelangkaan terus menghantui setiap saat. Sedangkan damar, obor, lampu tempel mereka sangat bergantung pada keberadaan minyak tanah. Saat mudah ditemukan pun, harga yang mereka tebus cukup mahal. Rp 15.000 satu liter. Jumlah tersebut bisa habis digunakan dalam tiga hari oleh sebuah keluarga.

Pada 2008, BPH Migas sempat merilis empat hal penyebab langkanya pasokan minyak tanah. Dirangkum dari Detik Finance, penyebab pertama ialah disparitas harga minyak tanah subsidi dan nonsubsidi. Kedua, masa transisi program konversi minyak tanah ke elpiji. Ketiga, adanya bencana alam seperti banjir dan tanah longsor yang menyebabkan terganggunya penyaluran distribusi minyak tanah. Keempat adanya panic buying sehingga warga mengantre beli minyak tanah dengan jumlah berlimpah.

Sembilan tahun berselang. Transisi konversi minyak tanah ke gas elpiji telah lama terlewati. Tidak ada lagi panic buying, kenapa berita kelangkaan minyak tanah masih ada? Seperti kelangkaan di Banjarmasin (diberitakan Tribun Banjarmasin 28 Juli 2017) dan kelangkaan di Masohi (Harian Fajar Maluku Tengah Januari 2017). Di Masohi bahkan minyak tanah dijual dari Rp 18.000-25.000.

Maka kita harus sepakat, untuk kebaikan saudara kita di pelosok dan perbatasan.

Lebih baik 1 watt hari ini daripada 100 watt lima tahun lagi.***

 

Blog oleh: Gita Pratiwi
ReBlog oleh ukologi dari Artikel