Energi Terbarukan yang Memerdekakan Warga Pelosok (Bagian 1-Bersambung)

AKUN YouTube Presiden Joko Widodo membagikan video pada 17 Agustus 2017. Selain rekaman Live Streaming Peringatan Kemerdekaan Republik Indonesia dengan kamera canggih 360 derajat, Jokowi juga membagikan TERANG DI DESA AMPAS, PAPUA.

 

YouTube Jokowi
Laman kanal Youtube Presiden Joko Widodo

 

Saya pun meng-klik thumbnail video berdurasi 6 menit 16 detik itu. Sebelum membaca deskripsi, saya sudah menerka, ini pasti soal masuknya jaringan listrik ke rumah saudara-saudara kita di timur. Benar saja, isi deksripsinya seperti itu. Berikut saya kutip:

“Puluhan tahun mereka hidup dalam kegelapan. Tak ada listrik yang menjangkau desa. Malam-malam di rumah mereka hanya diterangi cahaya pelita. Anak-anak sekolah belajar dengan penerangan seadanya. Asap dari pelita membentuk jelaga, minyak tanah yang dibakar lewat sumbu membuat mata mereka memerah dan pedih.

Di usia 72 Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia, desa-desa di pegunungan Papua, bermandikan cahaya listrik di malam hari. Inilah kisah kehadiran pemerintah di Desa Ampas, Kabupaten Keerom, Papua. “Terima kasih. Luar biasa, sudah dibangun listrik dan lampu di desa saya,” kata Yohanis Yafok, Kepala Desa Ampas.”

Detik demi detik video akhirnya memutar, dan pada detik-detik pertama mata saya telah basah. Paulus Yafok, warga Desa Ampas menuturkan, kehidupan desa hanya berlangsung saat matahari menyinari tanah Papua. Pada pukul 17.00 anak-anak sudah bersiap untuk tidur, karena apa yang mau dikerjakan dalam gelap. Ya, gelap gulita.

Kalimat dari Paulus Yafok menohok saya, ditambah ilustrasi video yang memberi gambaran bagaimana anak-anak harus menunggu pelita menyala demi bisa belajar dan mengerjakan PR malam hari. Di tempat saya menonton video itu, terang benderang, bertabur cahaya lampu rumah. Di luar, langit malam sedang masuk fase bulan baru, tapi lampu rumah tetangga berpijar dari sana-sini.

“Dengan pelita kami belajar, mata pedih, sakit,” kata seorang anak. Paulus menambahkan, pelita hanya bisa menyala saat BBM terdistribusi dengan baik ke desanya. Kalau tidak, siap-siap ‘buta’ semalam suntuk.

Thomas Alfa Edison, jasamu belum dinikmati di Desa Ampas, gumamku dalam hati.

ig_cidaun_01
Ilustrasi: Perjalanan Menuju Cidaun Foto: ukologi.com

Pembangunan PLTS

Paulus Yafok pun pergi ke kantor desa, mengungkapkan kegelisahan hatinya tentang kebutuhan akan listrik. Video kini merekam wawancara dengan Yohanis Yafok, sang kepala desa. Ia pun memperoleh saran agar ke kantor tingkat kabupaten saja. Rekaman menunjukkan lemari arsip dari kayu yang lapuk –tidak seperti lemari perkantoran di kota sini, berangka besi–, saat Yohanis menceritakan ia membuat proposal.

Pucuk dicinta ulam pun tiba. Katanya, Yohanis hanya perlu memberikan lahan untuk dibuatkan jaringan. Proposal pun mendapatkan jawaban dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral.

Di lahan yang disediakan Yohanis, dibangunkan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), selama setahun. Setelah selesai, hasilnya pun langsung dirasakan 84 kepala keluarga di Desa Ampas.

Seorang warga tersenyum lebar. Feri namanya. Ia ditunjuk jadi operator PLTS sekarang. Dia mengaku senang mendapatkan peran itu, dengan bantuan warga lain saat merawat perangkat PLTS.

“Saat ada lampu kita lebih senang, karena menyangkut dengan kita bekerja. Kalau ada petani yang seharian bekerja, pulang mau mandi atau apa ada lampu gampang. Anak-anak juga senang dalam artian mereka bisa belajar. Jam 5-6 sore mereka ambil buku,” kata kepala desa.

Pemanfaatan tenaga surya sebagai energi terbarukan adalah salah satu program dari KESDM. Menurut data dari website KESDM (www.esdm.go.id), PLTS sudah dibangun di 6 provinsi paling timur demi menjamin ketersediaan di pelosok negeri.

PLTS
Grafis Credit: esdm.go.id

Ini saatnya kita teriak Merdeka dari Kegelapan!

Tak hanya KESDM, seorang aktivis sosial asal Bandung pun tak mau ketinggalan membuat pelosok Indonesia terang. Ini dia kisahnya.

Pada 15 Agustus 2017 pagi, sebuah kampung di Pariaman, Sumatera Barat menyiapkan sebuah syukuran. Layaknya kampung-kampung lain yang menyambut Hari Ulang Tahun Indonesia ke-72 pada 17 Agustus, warga pun ramai-ramai mendekorasi kampung dengan warna merah putih. Tidak hanya itu, mereka pun akan merayakan keberadaan instalasi listrik di rumah-rumah warga.

Hal itu dituturkan Ujang Koswara, seorang pria yang sedang saya hubungi dari Bandung. Pertemuan kami yang terkendala jadwal padat beliau, akhirnya dimudahkan lewat saluran mobile phone. Saat itu kami tidak dapat bertemu karena Pak Ujang sedang ada di Pariaman. Sambungan telefon kami pun sempat putus-putus karena keterbatasan sinyal ketika Pak Ujang sedang sedikit bergeser dari tempat awal kami mengobrol.

img_0731
Ujang Koswara. Foto: ukologi.com

“Mereka bilang belum dapat listrik sejak bumi tergelar,” kata Ujang menirukan ucapan warga. “Sekarang sedang pasang bendera untuk rayakan kemerdekaan. Katanya baru kali ini merasakan apa artinya kemerdekaan. Pada nangis semua,” ujar dia.

Ujang dan tim membawakan instalasi lampu LED Limar (Listrik Mandiri Rakyat) ke sana. Ada sekitar 1.000 rumah yang terpasang instalasi lampu baru tersebut. Kali ini, dana CSR Semen Padang yang membelikan lampu-lampu seharga Rp 1 jutaan untuk warga.

Minyak tanah yang langka dan mahal

Selama ini–ya lebih dari 72 tahun, warga pakai lampu tempel bertenaga minyak tanah untuk penerangan rumahnya. Dari penghasilan alakadarnya (mayoritas sebagai buruh tani), warga harus menyisihkan Rp 15.000 untuk satu liter minyak tanah. Satu liter, dipakai semalam suntuk, bisa habis dalam tiga hari.

“Udah miskin cari uang. Kasihan. Mereka semua buruh,” kata Ujang lagi.

Limar yang disalurkan Ujang, membutuhkan sedikitnya biaya charge Rp 2.000 untuk kebutuhan sebulan. Di kantor desa, tersedia sebuah genset kecil yang bermodal bensin.

“Ada genset kecil, cukup satu liter untuk delapan aki, yang artinya bisa dipakai di delapan rumah. Beli satu drum, bisa satu tahun habisnya. Daripada genset nyala terus untuk lampu, kan,” ujar dia. Andai kemudian hari instalasi listrik PLN masuk desa tersebut, maka warga hanya perlu membayar sisanya. Misalkan untuk membayar listrik bagi penggunaan kulkas, televisi, dan lain-lain.

Apakah yang istimewa dari lampu bertenaga batu baterai? Simak pandangan Ujang selengkapnya tentang energi terbarukan, kreativitas, dan pemberdayaan kaum marjinal. Besok ya, tetap bersama #15HariCeritaEnergi.***

 

Blog oleh: Gita Pratiwi
ReBlog oleh ukologi dari Artikel