Eksistensi adalah Fondasi Kemakmuran

UKO_Blog_Label

Bertahan – Tumbuh – Berkembang

Seperti yang sudah saya singgung di tulisan sebelumnya, pembangunan yang dilakukan pada dasarnya adalah membangun eksistensi. Mengaktivasi manusia untuk mengeluarkan kemampuan terbaik agar bisa bertahan, tumbuh dan berkembang. Tiga kata kunci ini yang kemudian selalu menjadi dasar saya untuk melakukan segala kegiatan pemberdayaan. Saya ulangi ya. Bertahan – Tumbuh – Berkembang.

Sifat bertahan sejatinya adalah naluri terendah semua makhluk hidup. Keberadaan satu populasi spesies ditentukan oleh sejauh mana dia mampu bertahan di lingkungan hidup yang lebih besar (habitat) yang diisi oleh berbagai spesies dalam satu ekosistem. Semua itu berjalan dengan harmonis di bawah sistem atau aturan yang disebut hukum alam.

Salah satu faktor utama pendukung eksistensi satu spesies adalah ketersediaan makanan. Ada yang namanya rantai makanan dan piramida makanan. Makhluk hidup harus makan untuk bertahan hidup dan secara bersamaan mereka juga menjadi makanan bagi makhluk satu tingkat di atasnya. Begitu seterusnya hingga tingkatan makhluk hidup yang paling tinggi.

Ketika makhluk hidup bisa bertahan, maka dia bisa tumbuh dengan baik dan berkembang biak. Hal ini bisa menjadi indikator bahwa satu spesies itu eksis, bahwa satu spesies itu dianggap ada. Ketika ada penghuni di salah satu tingkat piramida terganggu eksistensinya, maka ini akan mempengaruhi pada keseimbangan ekosistem. Kuantitas dan kualitas penghuni piramida terendah akan pula mempengaruhi kuantitas dan kualitas seluruh penghuni piramida hingga puncaknya.

Piramida-makanan

Itu sisa ingatan pelajaran biologi jaman SMP yang masih saya ingat :D. Selebihnya silahkan googling sendiri, banyak teman-teman yang lebih pintar dari saya tentang ini.

Tatanan yang saya gambarkan di atas adalah cara alam bekerja. Ini menjadi referensi saya untuk bisa menilai bahwa satu tatanan masyarakat itu hidup seimbang atau tidak. Indonesia sudah merdeka lebih dari 70 tahun, tapi sangat mengejutkan saya ketika banyak saudara kita yang selama 70 tahun pula terdaftar sebagai warga negara namun belum mendapatkan hak penerangan sama sekali.

Seperti contohnya masih banyak warga Jawa Barat yang belum dapat listrik, meski mereka tinggal di sekitar PLTA. Sementara warga di kota yang lebih jauh bisa menikmatinya, berfoya-foya listrik. Ibaratnya sekalipun rumah kita bersebelahan dengan pabrik kue, tidak serta merta kita jadi ikut kebagian makan kuenya. Adil atau tidak? Ya jelas tidak adil. Sangat tidak adil. Tatanan yang tidak seimbang akan mencari cara menyeimbangkan diri, ada aksi ada reaksi, ada cause ada effect. Ketidakseimbangan akan menimbulkan gejolak.

Untuk mencapai tatanan yang sejahtera, satu masyarakat harus melalui proses alaminya ‘Bertahan-Tumbuh-Berkembang’ tadi. Ini hukum alam. Dalam benak saya tatanan yang sejahtera itu adalah tatanan yang seimbang dalam segala aspek pembangunan, mulai dari ideologi, sosial, ekonomi, lingkungan hingga budaya dan politik. Kabeh pokona mah. Sebelumnya, mari kita sepakati dulu pengertian sejahtera ya, sejahtera itu bukan kaya raya. Sejahtera adalah kondisi manusia yang makmur, sehat dan damai. Kalau dalam Islam, sejahtera itu penuh iman dan takwa. Tidak ada yang merujuk arti kata sejahtera itu kaya raya.

Blunder Pembangunan

Kali ini saya ingin berbagi cerita tentang contoh ketidakseimbangan tatanan masyarakat kita. Yang saya temukan cukup mengejutkan, tanpa disadari kondisi ini ternyata menimbun remah-remah gejolak yang ekstrim. Ancaman radikalisme.

Beberapa tahun ke belakang saya kedatangan tamu yang mengaku utusan BNPT (Badan Nasional Penanggulangan Terorisme), sebut saja pak Arif (bukan nama asli), harap maklum, tipe orang-orang seperti ini memang seperti agen rahasia. Dia mengaku sebagai staf khusus yang ditugaskan oleh Sekretaris Utama (Sestama) BNPT Mayjen TNI Gautama Wiranegara. Saya sempat kaget, sekaget-kagetnya. Apa hubungannya dengan saya? Apakah saya masuk radar mereka untuk mereka ‘tertibkan’? Adakah kesalahan yang sudah saya lakukan sehingga saya masuk radar mereka? Memang sih, banyak kegiatan saya di antaranya melibatkan para santri untuk merakit Limar. Waduh. Otak saya langsung berpikir keras, seandainya benar dugaan saya, saya akan cari bantuan teman-teman TNI :))

Ada apa ya, pak Arif? Bari ngadegdeg kesang tiis.

Oleh pak Arif ini saya ditanya menyangkut apa saja kegiatan yang saya lakukan. Bisa jadi ini awal interogasi. Saya ceritakan saja sejelas-jelasnya, hati-hati memilih kalimat. Termasuk tentang kegiatan saya bersama para siswa dan santri beberapa pesantren di Jawa Barat. Saya jelaskan semuanya biar clear dan terang bahwa tidak ada yang salah dengan kegiatan saya.

Dasar suudzon. Buruk sangka memang pintu celaka. Tapi kemudian Pak Arif ini menjelaskan maksudnya mendatangi saya. Bahwa BNPT sangat mengapresiasi rekam jejak saya dengan Limar, terutama dengan kegiatan merakit Limar bersama para santri tadi. Saya tambah heran, memangnya kenapa Pak? Ternyata kegiatan tersebut kemudian menginspirasi gagasan dan inisiatif bagi BNPT untuk menjadikan Limar masuk program BNPT dalam menanggulangi radikalisme. Kok bisa?

Berdiskusilah kita panjang lebar. Menarik juga. Saya mendapat wawasan baru kali ini tentang jaringan teroris. Tapi gak perlu saya ceritakan terlalu panjang di sini ya, kita semua tahu bahwa kegiatan jaringan teroris ini begitu senyap, terkoordinir dan sangat terlatih melancarkan aksinya. Tentang bagaimana mereka bekerja, mengemas agenda, menyebarkan paham, hingga merekrut pengantin-pengantin jihadnya dan lain-lain. Tapi yang menarik perhatian saya adalah apa yang sebenarnya mendorong para pengantin jihad itu beraksi sebegitu yakinnya, sampai mereka mau mengorbankan nyawa dan meninggalkan keluarga mereka?

Lalu pak Arif bercerita, rata-rata para pengantin ini berasal dari golongan masyarakat yang merasa ‘tersingkir’ atau ‘menyingkirkan diri’ dari kehidupan sosial di habitat mereka hidup. Mereka frustrasi dengan kondisi yang tidak bersahabat terhadap mereka, ada kesenjangan besar antara mimpi kehidupan dengan kenyataan yang mereka hadapi. Tekanan hidup makin menghimpit, ditambah beratnya beban nafkah keluarga. Kepercayaan diri pun jatuh, perasaan tidak berdaya semakin menguasai pikiran yang sudah kusut. Mereka cuma bisa berharap mukjizat datang dan melepaskan mereka dari semua kesulitan hidup. Kasian.

Kondisi seperti inilah yang lalu dimanfaatkan jaringan radikal untuk merekrut para pengantinnya. Terbukalah pintu masuk untuk doktrin aneh dan agenda sesat yang sudah dikemas dengan iming-iming surga. Para calon pengantin yang sedang susah itu merasa seolah menemukan panutan baru dan juru selamatnya. Doktrin-doktrin itu kemudian menjelma menjadi pilihan hidup yang paling benar bagi mereka, hingga keyakinan itu mengkristalkan dorongan untuk melakukan aksi seperti yang dititahkan doktrin aneh tadi.

Untuk bisa mengerti ini, kita harus bisa membayangkan kita ada di posisi sulit mereka. Ketika kita ada di puncak haus dan lapar, otak tak lagi berpikir jernih, hati pun ikut membara. Naluri berburu muncul semakin kuat. Apapun yang bisa kita makan, kita sikat. Kita akan lakukan apapun untuk bertahan hidup dan tetap eksis di habitat kita. Saya pikir ini adalah insting terendah makhluk hidup. Alamiah.

Semua jadi masuk akal. Golongan ini merasa menjadi korban dari pembangunan yang angkuh dan tidak adil. Keberadaan mereka tidak ditanggapi. Eksistensi mereka diabaikan. Layaknya penghuni yang tersingkir dari sebuah piramida makanan. Wajar saja mereka melawan. Masalah ini bisa saya rasa bisa dianggap sebagai indikator kegagalan pembangunan yang tidak berprinsip pada keseimbangan. Pada kondisi tidak seimbang, alam secara naluri akan bergerak mencari keseimbangan baru.

Akhir cerita, kemudian saya mengamini ajakan BNPT untuk bekerja sama menjalankan program deradikalisasi di beberapa daerah seperti di antaranya Solo dan Makassar . Alhamdulillah, konsep kegiatan pemberdayaan masyarakat dan Limar yang selama ini saya terapkan bisa bermanfaat untuk masalah yang lebih luas. Ini yang membuat saya semakin yakin akan pesan dan amanat dalam kutipan lirik lagu kebangsaan kita, “bangunlah jiwanya, bangunlah raganya, untuk Indonesia Raya”.

qbigenxz3t1474897738
Kepala BNPT Komjen Pol Suhardi Alius (kiri) menyerahkan bantuan 1.000 paket lampu Limar dan 300 lampu penerangan jalan ke pondok pesantren Ulul Albab, Solo. (Foto: merahputih.com)

f30b35d2-10b5-4b86-80eb-b075af3ca950

ber1j_20160928_201300
Peresmian program pemberian bantuan pemberdayaan dan pemasangan Limar bersama Kepala BNPT Komjen Pol Suhardi Alius dan Gubernur Sulawesi Selatan Syahrul Yasin Limpo.

 

limnar-siladmas-768x432
Ramah-tamah bersama Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo selepas acara peresmian. Menarik, masih banyak potensi masyarakat yang bisa digerakkan melalui program ini.

bersambung…