Esensi Pembangunan Adalah Eksistensi

UKO_Blog_Label

Usaha pemerataan pembangunan selama berpuluh-puluh tahun semenjak Indonesia merdeka nyatanya masih terbentur banyak kendala. Pergerakan ekonomi dianggap masih tidak jauh berada dari lingkaran terdekat ibukota. Cuma sedikit golongan saja yang merasakan langsung hasil pembangunan. Percepatan pembangunan yang sering didengungkan para pemimpin pemerintah yang silih berganti seringkali menguap di tengah jalan. Bahkan menghilang sebelum dia sempat direncanakan. Masyarakat bawah hanya bisa menanti tanpa ujung, hingga mereka sadar, nasib mereka ada di tangan mereka sendiri. Akhirnya, mereka pasrah pada keadaan, apalah mereka ini.

Kondisi Indonesia yang merupakan negara kepulauan dengan kondisi lansekap yang kompleks, masih terlalu besar untuk ditangani sendiri pemerintah pusat. Walaupun sistem otonomi telah dijalankan, masih perlu waktu bagi yang tidak sedikit bagi masyarakat bawah untuk setidaknya merasakan sedikit pencerahan hasil pembangunan. Belum lagi hambatan sistem birokrasi yang rumit.

bccf_jokowi_01
Saya menjelaskan program elektrifikasi mandiri dan pemberdayaan publik ‘Indonesia Terang’ kepada Presiden Joko Widodo saat kunjungan ke acara peresmian sekretariat BCCF di Bandung, Januari 2015.

Sebagai contoh, bidang penerangan, bidang yang saya geluti. Kemampuan PLN untuk menjangkau pelosok melayani kebutuhan energi masih jauh dari harapan. Pernah muncul wacana tentang peluang peran swasta masuk sektor ini guna menyuntik volume pasokan listrik, menguap sebatas polemik. Ongkos yang harus disediakan masih terlalu besar, swasta pun berhitung, belum lagi banyak paket kebijakan yang kontra-produktif. Dan utamanya, listrik yang menyangkut hajat hidup orang banyak sejatinya harus dikelola oleh negara untuk menghindari profit-taking yang bisa merugikan rakyat. Namun masyarakat pelosok dipaksa untuk bersabar lebih lama lagi.

Kebijakan negara tentang konversi minyak tanah ke gas ikut memperparah situasi, distribusi gas ke pelosok tidak benar-benar berjalan baik. Menyebabkan gas sama langkanya dengan minyak tanah. Faktanya di pedesaan, minyak tanah yang sudah cukup mahal tidak digunakan untuk memasak karena kayu bakar melimpah, tapi dipakai untuk bahan bakar lentera sebagai penerangan di malam hari. Tanpa lentera, desa nyaris layaknya seperti hutan belantara, mati kegiatan dan gelap gulita.

Hal lain, pemberlakuan ujian nasional saat itu cenderung menyamaratakan hasil pendidikan di daerah maju (kota) dan desa yang masih serba sulit. Tantangan terberat tentu jatuh pada golongan yang hanya mengenyam pendidikan dengan fasilitas seadanya seperti di pedesaan, apalagi pelosok yang belum punya penerangan. Di kala malam mereka tidak bisa belajar dengan baik mempersiapkan diri untuk ujian. Ini jelas tidak adil bagi mereka. Kesempatan dan keberhasilan pendidikan berbeda, tapi ujian dianggap sama.

Penerangan Pintu Akselerasi Pembangunan

Tidak sulit bagi saya untuk memulai inisiatif masuk ke permasalahan ini. Paket produk Limar yang ringkas dan kompak kemudian dianggap solusi cepat mengatasi masalah ini. Tanpa harus membangun infrastruktur makro yang butuh modal besar, negara masih bisa melayani kebutuhan listrik di pelosok. Meski begitu, perhatian para pemangku kepentingan dan pemegang kebijakan harus tetap didorong agar semakin luas masyarakat daerah yang bisa merasakan penerangan. Butuh banyak konsep solusi dan kemasan teoritis untuk mendorong misi ini terus bisa digulirkan. Alhamdulillah, walaupun masih jauh dari sasaran, Limar perlahan tapi pasti bisa dinikmati di pelosok.

Pihak seperti TNI dengan kemampuan dan sumber dayanya menggerakan bantuan CSR dari sektor swasta merupakan contoh kolaborasi yang efektif. Urgensi masalah penerangan di pelosok bisa menjadi pemicu terbentuknya sinergi berbagai pihak. Diharapkan dengan masuknya penerangan akan memicu akselerasi pembangunan di sektor lainnya, seperti pengembangan infrastruktur, penigkatan aktivitas ekonomi, pendidikan, dan sebagainya. Melalui pemasangan lampu Limar, kegiatan mengaji dan belajar anak di malam hari yang semakin menyenangkan, waktu produktif warga pun semakin panjang. Ini merupakan potret sederhana bahwa gairah kehidupan di pelosok mulai terasa.

Di sisi lain, masyarakat kemudian merasakan benar kehadiran negara yang selama bertahun-tahun terkesan abai. TNI menganggap Limar juga bisa jadi solusi praktis kebuntuan masalah nasionalisme masyarakat di pulau terluar yang rawan bahaya pencaplokan asing. Mereka mulai merasakan secara nyata perhatian negara.

Pembangunan yang Menyentuh adalah Membangun Eksistensi

“Bangunlah jiwanya bangunlah raganya… untuk Indonesia Raya”

Berat rasanya berpikir bagaimana meningkatkan kesejahteraan ekonomi di pedesaan, mereka masih bergelut dengan kelangsungan hidup dalam hitungan hari. Tapi saya berusaha untuk berpikir sederhana, dengan cara yang bisa membantu mengurangi beban biaya hidup sehari-hari saja bisa menjadi dorongan luar biasa untuk menghidupkan gairah di pedesaan. Dengan sumbangan negara dalam bentuk Limar, warga desa sudah bisa berhemat biaya gas dan minyak tanah, sehingga mereka bisa mengalihkan fokus perhatian untuk hal vital lainnya. Mengurangi beban hidup bisa berarti meningkatkan kebahagiaan. Lucunya, cara sederhana ini seringkali luput dari perhatian banyak orang.

Kembali. Ketika saya berinisiatif memulai Limar, pertanyaan pertama yg tersirat adalah modal. Namun seketika mindset modal ini berbalik 180 derajat ketika saya menemukan hal yang paling prinsip. Saya telah menetapkan bahwa saya akan bergerak secara sosial, bukan kapital, karena jika saya menerapkan pola kapital maka bisa dibayangkan berapa besar modal yang harus diusahakan agar Limar bisa dieksekusi. Saya berusaha mencari celah bagaimana caranya Limar bisa diproduksi dengan biaya ekonomis agar bisa mencapai besaran manfaat yang maksimal. Tabungan modal saya tidak mencukupi untuk membangun pabrik dengan jumlah karyawan besar.

Ajaib. Ketulusan niat mulai menampakkan kekuatan bola saljunya. Ada hal menarik kemudian terjadi. Dari beberapa remaja yang saya ajak bekerja merakit Limar dengan gaji secukupnya, tanpa diduga mereka berbagi cerita kemudian mengundang minat teman-temannya untuk meminta bergabung bekerja, bahkan bersedia tanpa dibayar sekalipun. Nu gelo sugan, maneh dahar naon engke? Saya terkejut dan terheran dengan apa yang terjadi. Satu hal mendasar yang kemudian saya sadari dan teman-teman rasakan adalah perasaan berguna dan bermanfaat bagi orang lain. Indah sekali. Rata-rata mereka adalah anak-anak putus sekolah, galau tujuan dan gagal bersahabat dengan iklim sosial perkotaan yang serba materi, kurang lebih sama persis dengan pengalaman saya dulu yang selalu gagal berbisnis. Tetapi dengan ikut bekerja merakit Limar, mereka merasa bahwa kontribusinya bisa memberi manfaat bagi orang lain terutama warga pelosok. Mereka merasa dibutuhkan. Emosional pisan.

Perasaan bangga telah berguna ini ternyata jadi energi besar yang membangkitkan potensi produktif yang belum pernah muncul sebelumnya. Tanpa sengaja saya menemukan cara untuk mengaktivasi sebuah gagasan baru.

Konsep pemberdayaan ini kemudian menjadi backbone kegiatan perakitan Limar, bahkan Limar dan produk-produk lainnya hanya menjadi sebatas medianya saja, perangkatnya saja. Justru hal terpenting dari Limar adalah faktor manusianya. Ketika manusia dibangun eksistensinya, apapun bisa terjadi. Bayangkan apa yang terjadi jika hal ini dilakukan secara kolektif, komunal. Banyak desa bisa ‘terang’ dan hidup. Maka itu boleh saya berucap, sisi terpenting dari sebuah pembangunan adalah mengaktivasi manusia, membangun eksistensi, karena semua manusia membutuhkan pengakuan sesamanya. Eksistensi, untuk masyarakat pelosok yang selama ini terlupakan. Eksistensi, untuk kawan-kawan semua yang kemudian bisa menemukan cara tampil untuk berkarya. Eksistensi menurut saya adalah hak asasi paling hakiki setelah hak hidup.

Isu pemberdayaan ini ternyata tidak hanya ada di benak teman-teman saya perakit Limar saja. Ketika saya berususan dengan banyak pimpinan daerah dan TNI, dari tingkatan Komandan Babinsa, Bupati, Panglima Kodam, Gubernur, hingga Panglima TNI, hal yang sama juga mereka rasakan. “Masa iya TNI harus bikin perang untuk merasa berguna bagi bangsa dan negara? Kita harus melakukan sesuatu untuk bangsa ini!” Pak Panglima, saya yakinkan bapak, musuh kita bersama yang paling nyata saat ini ada di depan mata itu adalah kegelapan dan kebodohan.

uko_tni_gatot_nurmantyo_01
Bersama Jenderal TNI Gatot Nurmantyo (KSAD saat itu) ketika meluncurkan program penerangan Limar “Serbuan Teritorial” untuk daerah terluar Indonesia.

Karena dalam gelap, mana bisa saya membaca.
Dalam gelap, mana bisa saya tau sedang terancam atau tidak.
Dalam gelap, mana bisa saya bercermin.
Dalam gelap, mana bisa saya tau sedang sendiri atau tidak.
Dalam gelap, mana bisa saya tau satu hal ada atau tidak.

*bersambung ke sini