Program Limatere Jadi Solusi Masalah Kekurangan Pasokan Listrik Di Ende

KBRN Ende : Program Limatere pada awalnya disebut program Listrik Mandiri Rakyat, setelah bekerja sama dengan TNI program ini dinamakan Lamtera atau Lampu Tentara Rakyat, yang merupakan bentuk kemanunggalan TNI dengan rakyat, dan salah satu wujud Bela Negara. Ini disampaikan Komandan Kodim 1602 Ende – Letnan Kolonel Kavaleri Suteja, SH, Msi saat diwawancarai RRI , Senin 06 Februari 2017 . Menurut Dandim Suteja saat awal bertugas di Ende, masyarakat di Kecamatan Ndori saat dikunjunginya , meminta bantuan TNI menjawab kebutuhan listrik mereka, untuk itu pihaknya menjawab permintaan masyarakat tersebut dengan program Limar ini.

Ditambahkan Dandim Ende, setelah didata di wilayah kab. Ende terdapat 48 desa, 10 dusun dan total 5.698 KK yang belum menikmati listrik hingga saat ini, oleh karena itu pihaknya berjanji dalam waktu dekat, dengan dukungan dari Pemerintah Kab. Ende program ini akan segera direalisasikan

Untuk mendukung program ini, ujar Suteja  pihak Kodim 1602 Ende juga telah melaksanakan sosialisasi tentang Limatere pada tanggal 31 januari 2017 lalu dengan mengahadirkan Ujang Koswara – penemu Listrik Madiri Rakyat, untuk menjelaskan program serta manfaat dan keunggulan Limatere kepada masyarakat Kab. Ende.

Secara terpisah dikonfirmasi RRI,  Ujang Koswara – Ketua Yayasan Pilar Peradaban dan penemu Limar ini mengatakan, program ini memiliki banyak sekali manfaat dan keunggulan dibandingkan dengan listrik dari PLN. Lampu Limar dibuat khusus untuk masyarakat pelosok, yang kampungnya belum sejahtera listrik. Sumber energi lampu berasal dari aki basah yang biasa dipakai di motor atau mobil

Dia mengatakan bahan bakunya sangat sederhana, cukup satu unit baterai (Accu) yang dilengkapi material lain, untuk setiap unit rumah, dilengkapi lima unit mata lampu lengkap dengan accu-nya.

“Bila Accu tersebut soak, bisa diisi kembali di Kantor Desa. Biayanya hanya Rp 2000 untuk sekali isi. Untuk pengisian dilakukan di kantor desa dan dikendalikan langsung pak Desa,” ujarnya.

Accu tersebut, ujar dia, diisi daya setiap bulan, karena itulah jika dibandingkan penggunaan minyak tanah akan jauh berbeda, terlebih minyak tanah juga sering langka.

Ditambahkan Ujang berdasarkan data dari PLN, kini masih ada sekitar 30 juta penduduk Indonesia yang belum mendapatkan sambungan listrik. Sehingga dengan lampunya yang bertenaga Aki, dirinya berharap semua daerah di Indonesia bisa bebas gelap. NDY – RRI

 

Repost dari Artikel