Lebih Baik 10 Watt Hari Ini, Dari Pada 100 Watt 10 Tahun Lagi

uko_home

Ujang Koswara ingat betul keluhan ibunya, Mimin Mintarsih, 68 tahun. Sang ibu yang tinggal di Desa Pasir Awi, Kecamatan Bayongbong, Kabupaten Garut, Jawa Barat, belum pernah merasakan terang lampu listrik di rumahnya. Begitu pula tetangga dan kerabat di sekitarnya. Setiap malam, lampu cempor yang berbahan bakar minyak tanah menjadi andalan.

Namun, sejak pengalihan minyak tanah ke gas elpiji pada 2008, Mimin dan warga kampung kelimpungan. Selain harganya naik menjadi Rp 12 ribu per liter, barangnya makin susah diperoleh. “Lebih baik ada 5 watt listrik sekarang untuk lampu dari pada 100 watt yang masih harus menunggu 10 tahun lagi,” Ujang menirukan omongan Mimin waktu itu.

Penderitaan ibunya itu melecut Ujang untuk bertindak. “Apalagi keponakan saya waktu itu (2008) mau ikut ujian nasional, tapi nggak bisa belajar malam harinya”. Belum lagi, setelah ia melakukan riset, data PLN menunjukkan masih ada 30 persen dan 40-an juta penduduk Jawa Barat yang belum mendapat setrum listrik “Ironisnya, kampung-kampung yang gelap ini justru berada di sekitar PLTA seperti PLTA Cirata dan Saguling,” kata Ujang.

Sekembalinya di Bandung, ia mendapat ide dari lampu sorot lampu senter di telepon selular miliknya ketika sedang mencari kunci mobil yang terjatuh di sela jok. Teknologi itu baginya serasa ajaib karena lampu sekecil itu dan dengan baterai tipis ternyata bisa menyala terang. Ia pun langsung memikirkan kemungkinan lampu seperti itu bisa menggantikan lampu cempor di rumah ibunya di Kampung.

Setelah mempelajari seluk-beluk teknologi LED (light-emitting diode), mantan dosen Politeknik Mekanik Swiss-ITB itu kemudian melakukan riset bersama Agus Listrik, seorang tukang reparasi alat elektronik di Jalan Banceuy, Bandung. Mereka berdua mencari bentuk dan rangkaian komponen lampu yang pas agar bisa menyala. Sumber tenaganya bisa dari baterai atau aki basah pada mobil atau sepeda motor. “Ini solusi Indonesia bebas gelap dari kami di daerah tanpa listrik,”katanya.

Bermodal Rp 10 juta, lampu yang disebut Listrik Mandiri Rakyat (Limar) itu tuntas digarap selama enam bulan. LED sengaja ia beli dari sebuah perusahaan di Amerika Serikat yang tergolong andal sehingga lampu bisa kuat dipakai selama 50 ribu jam. Komponen lain seperti diode, integrated circuit, dan resistor, adalah hasil beli dari toko-toko elektronik di Bandung dan Jakarta.

Setelah beres, lampu Limar yang dibanderol 1,2 juta itu ia tawarkan ke sejumlah bupati dan calon bupati yang akan maju dalam pemilihan kepala daerah. Salah satu caranya, Ujang mencegat para calon itu atau tim suksesnya di Bandung ketika mau memesan kaos kampanye. “Daripada pesan kaos, mending lampu ini saja supaya terpilih lagi,” kata Ujang.

Khusus bagi para calon bupati, ada strategi lain lagi. Karena alasan para calon tokoh biasanya selalu kekurangan dana, lampu yang ditawarkan cukup tiga set dulu per kampung, “Untuk dibagikan ke kepala desa, tokoh masyarakat, dan fasilitas umum,” ujarnya.

Sepanjang 2009-2010, pendekatannya berhasil membuat puluhan kampung di berbagai daerah di Indonesia bisa terang tanpa bantuan PLN. “Lampu Limar ini juga menjadi pelecut pemerintah dan PLN untuk memasang listrik hingga ke pelosok daerah,” katanya.

Agar daerah pelosok Indonesia lebih terang, Ujang kemudian melirik perusahaan yang mempunya dana Corporate Social Responsibility (CSR). PT PLN menjadi incaran awalnya. Ia mendatangi kantor direktur utama PT PLN yang ketika itu masih dijabat Dahlan Iskan. Ujang dan PLN sepakat untuk membagikan lampu Limar untuk 500 keluarga di empat dusun di Lombok Tengah.

Kisah lampunya ternyata terus meluas. Perusahaan Gas Negara pernah memesan 4.000 lampu Limar untuk dibagikan ke warga nihil listrik di Lampung dan Jawa Timur. “Lokasi biasanya ditentukan pemesan,” kata Ujang. Kerja kerasnya membuahkan hasil. Kini, Kamar Dagang Industri Jawa Barat menyokong biaya produksi lampu Limar. Sebanyak 25 ribu unit lampu per bulan dia kerjakan bersama belasan karyawan, anak-anak sekolah menengah kejuruan yang datang bergilir, serta 30 perempuan penghuni LP Sukamiskin, Bandung.

Selain itu, ia bersama tiga rekannya bekerja sama mendirikan perusahaan untuk membuat lampu-lampu LED komersial, lampu jalan, perkantoran dan pabrik.

Repost dari tulisan Anwar Siswadi
Artikel: Ujang Koswara Sang Penerang
Rubrik Kosmo, Koran Tempo, 25 April 2013

Gallery Foto Kiprah UKO