Ujang: Bisnis Itu Ada Tinjauan Ekonomi dan Sosial

PROKAL.CO – KPw Bank Indonesia (BI) Balikpapan menggelar studi banding dalam rangka pelatihan wartawan dan pembudidaya terkait pengembangan klaster rumput laut maupun hortikultura selama tiga sejak 31 Oktober-2 November. Rombongan mengunjungi beberapa lokasi di Serang, Bandung dan Lembang, berikut catatannya.

APRIYANTO, Bandung apriyanto@balikpapanpos.co.id

SETELAH melepas lelah semalaman di rumah peristirahatan Bank Indonesia (BI) Bandung, sekira pukul 07.30 WIB rombongan studi banding berangkat menuju Workshop Ujang Koswara di Kota Bandung. Setibanya di workshop rombongan langsung di sambut oleh pemilik workshop, Ujang Koswara.

Bangunannya cukup besar, berbentuk persegi. Ada berbagai macam peralatan di dalamnya. Mulai dari peralatan elektrik hingga mesin-mesin tertentu. Ujang yang saat itu mengenakan pakaian batik, seperti sudah menunggu lama  kedatangan  rombongan.

Karuan saja,  Ujang langsung berbicara panjang lebar seputar usaha yang ditekuninya. Semangat berbagi ilmu yang dimiliknya kepada seluruh peserta rombongan studi banding, sangat terlihat. Semua pertanyaan pun dijawab lugas.

Ujang sempat menceritakan kisah hidupnya merintis usah, ada yang suka dan ada pula dukanya. Berbagai penemuannya yang berjumlah lebih dari 70 penemuan ada di dalam workshop miliknya. Contohnya, pompa tanpa listrik atau yang sering disebut “pompa setan” yang dapat memindahkan air dari bawah ke atas tanpa mesin.

Selain itu, ada penemuan yang baru-baru ini membuat sebagian rakyat yang belum merasakan penerangan di malam hari, kini dapat merasakan terangnya lampu. Ujang Koswara menciptakan listrik mandiri rakyat  yang disingkat limar. Limar ini dapat menerangi pelosok-pelosok desa yang tidak pernah merasakan listrik dari pemerintah,.

“Untuk program limar sendiri sudah di lakukan di berbagai daerah seperti di Lombok, Tasikmalaya,” kata Ujang.

Limar ini hanya menggunakan satu accu (aki) dalam satu rumah yang dengan menggunakan 5 bolam lampu dengan ukuran 1 watt, setara dengan lampu ukuran 10 watt. Aki yang di gunakan berukuran 35 ampere. Produksi limar ini hanya satu-satunya di dunia dan kini di produksi ribuan unit untuk di kirim ke Myanmar.  “Kesejahtraan rakyat jangan hanya diukur dengan sembako tapi dengan listrik,” kata Ujang Koswara penuh inspirasi.

Untuk membuat limar hanya membutuhkan Rp  1 juta saja untuk satu rumah. Dia membuat semua ini agar menjadi solusi bagi mereka, Ujang selalu membayangkan mengalami seperti masyarakat yang hidup dalam kegelapan jika malam tiba.

Diakuinya, sebelum membuat limar, Ujang terlebih dahulu pergi ke lokasi tersebut. Menginap di rumah warga yang gelap gulita, hanya di temani oleh lampu minyak dan hias sang rembulan. ”Kenapa saya muncul, saya itu selalu membayangkan jika saya mengalami seperti mereka. Kalo tidak gimana saya mau aplikasikan, saya datang ke sana, tidur tidak ada listrik. Begitu susahnya, makanya saya membuat limar ini,” tutur alumnus Institut Teknologi Bandung (ITB) ini.

Saat in, katanya bahan bakar minyak (BBM) lagi susah. Dia pun mencoba menciptakan bahan bakar kendaraan menggunakan gas LPG, saat ini kendaraan menggunakan gas LPG yang sedang rame dibicarakan di masyarakat karena harganya sangat murah.

Dari uji coba yang telah di lakukannya, dari Jakarta menuju Surabaya hanya menghabiskan satu tabung gas ukuran 3 kilogram seharga Rp15 ribu dapat menempuh jarak sekitar 600 kilometer. Saat ini Ujang masih membuat tabung dengan ukuran satu kilogram. Dia pun datang ke Perusahaan Gas Negara (PGN)  untuk menjelaskan tentang tujuannya.

“Karena tabung gas ini milik Pertamina dan ada subsidinya, PGN menyarankan untuk memakai CNG (compressednatural gas, Red),” beber pria yang dibesarkan dari keluarga petani sederhana ini.

Setelah dibuat, nantinya tabung gas tidak di letakan di belakang lagi. Melainkan tersimpan dibawah jok sepeda motor. “Jadi tabung itu tidak di taruh di belakang lagi seperti melon, tidak asyik tuh. Tabung nanti hanya sebesar 1 kilo trus di kompres, secara market luar biasa 60 juta sepeda motor di Indonesia,” paparnya.

Ujang menjelaskan, bahwa dia mendapat modal dari PGN. sampai jadi barangnya  sampai kesertifikasinya, hingga Ujang pergi ke luar negeri sampai ke Hongkong dan ke Jepang dan memberikan contohnya ke PGN untuk diproduksi masal.

Ujang juga menjelaskan, jika kehabisan gas saat mengendari kendaraan tidak usah khawatir  akan mogok, karena ada dua tabung cadangan seperti NOS sebagai penambah daya dorong. Dia juga menegaskan, sudah ada prototipe yang segera rampung dalam waktu dekat. “Nanti akan di-launching di Istana Negara oleh Ibu Ani Yudoyono,” bangganya.

Ujang menuturkan, setiap perusahaan pasti memiliki program coorporate social responsibility (CSR) berkisar 2 persen dari keuntungan. Nah, dana CSR ini  wajib dikeluarkan. Jika CSR biasanya dikeluarkan untuk membeli sembako dan kebutuhan biasa, namun ia mendorong agar CSR dimanfaatkan lebih kreatif dan benar-benar dirasakan dalam waktu panjang.

Seperti membeli penemuan limar, listrik untuk masyarakat terpencil. Ini menjadi bagian dari banyak solusi untuk memaksimalkan program CSR. “Seperti bank mau mengeluarkan dana tersebut namun manajemen CSR tersebut miskin program, tidak mengerti karena mereka biasanya tidak pernah turun ke lapangan. Seharusnya agar program tersebut berjalan yang menjadi mitra CSR itu adalah wartawan. Karena dari wartawan lah semuanya dapat mengetahui,” ungkap Ujang, mengapresiasi peran wartawan.

Setelah itu, sambung dia, perusahaan tinggal meralisasikan program CSR. Bisa menggunakan wadah yayasan atau lainnya. Yayasan ini juga yang akan memverifikasi aktualisasi dan informasi dari para wartawan  untuk mengecek kebenerannya. Penggunaan dana CSR pun harus sahih (pasti dan benar). “Jangan di lebih-lebihkan, jangan menyulitkan ketika diaudit,” tandasnya.

connecting people yang sekarang ini, menurut saya hanyalah media. Saya dapat informasi, ya dari media di Lombok, Tasikmalaya. Semua itu bukan dari pemerintah daerah, saya dapat informasinya tapi dari media,” kata pria kelahiran Cikajang, Garut, Jawa Barat.

Teknologi, tambahnya, bukan sesuatu yang sulit. Selama ini teknologi sulit dikembangkan karena hanya berpatokan pada  test book. “Semua digiring ke arah sana, jadi seharusnya kita mencetak manusia-manusia yang hanya pandai membuat resep tapi bisa jadi koki ,” katanya memotivasi.

Dengan sekira 70 lebih penemuan teknologi yang ada di workshop. Ada beberapa di antaranya yang tidak kalah populer dan bermanfaat, seperti bio etanol, gardu listrik dari fiber, pompa setan, kompor minyak bekas penggorengan, limar  dan masih banyak lagi.

“Kegiatan bisnis itu ada dua Pak, seperti dua permukaan mata uang. Ada tinjauan ekonomi dan ada tinjauan sosial, salah satu tidak ada, tidak akan laku,” tutup Ujang Koswara.

 

Reblog dari Artikel