Wedangan : The Panas Dalam Institute menjawab Tantangan Dunia Kreatif

  Peserta diskusi yang telah datang langsung menulis daftar hadir di buku tamu.
Peserta diskusi yang telah datang langsung menulis daftar hadir di buku tamu.

Teks & foto : Ifan f. Harijanto

Yogyakarta – Tanpa ada bentuk bangunan diatas lahan yang luas, Daerah Istimewa The Panas Dalam membuat sebuah institusi pendidikan Virtual yang dinamakan The Panas Dalam Institute. Seperti halnya ketika The Panas Dalam pimpinan Imam Besar Pidi Baiq pertama kali mendirikan Republik The Panas Dalam pada tahun 1995 yang berada di lantai 2 kampus ITB dengan ukuran 7×8 meter persegi. The Panas Dalam Institute bermaksud mengajarkan hal – hal kreatif yang tidak biasa saat ini, dan mereka akan diajarkan hal – hal yang sedikit nyeleneh tetapi tetap produktif, jadi bukan hanya memotivasi namun lebih kepada solusi dan aplikasi yang selama ini jarang didapatkan di dunia nyata saat ini. Berdasarkan itulah penyelenggara acara Wedangan hasil kerjasama ADGI, The Panas Dalam Institute dan Indonesia Kreatif, merupakan acara diskusi bulanan dengan moto “Creative Sharing Creative Giving” mengundang The Panas Dalam Institute yang diwakili kang Pidi Baiq dan kang  Ujang Koswara sebagai pembicara dengan tema “ Tantangan Dunia Kreatif “. Bertempat di Indraloka Homestay. Acara wedangan #9 tanggal 30 sepember 2011 ini dipenuhi oleh sekitar 150 orang lebih yang berdatangan dari berbagai kalangan, baik mahasiswa, praktisi maupun pemerhati pendidikan kreatif di jogja.

Acara dimulai pukul 19.15 dibuka oleh sambutan dari moderator yang dibawakan Iqbal dari Reka Rupa. Kemudian dilanjutkan dengan pemaparan materi dan presentasi dari kang Ujang Koswara seorang inovator dan creativepreneur yang telah banyak menciptakan dan memproduksi barang – barang dari hasil pemikiran dan inovasinya yang sudah banyak diaplikasikan di beberapa daerah dan tempat di Indonesia. Dalam kesempatan ini kang Ujang Koswara memberikan pemaparan materi yang sangat simple namun begitu berguna bagi peserta diskusi, dimana hal – hal yang selama ini sepele dan tidak terpikirkan, oleh kang Ujang Koswara hal seperti itu dijadikan peluangnya untuk berinovasi, karena menurut kang Ujang Koswara dalam pemaparannya disebutkan bahwa untuk berjualan itu perlu market/pasarnya terlebih dahulu sebelum menjadikan barangnya untuk bisa menangkap peluang apa yang harus dibuat, sehingga barang yang diproduksi benar – benar bisa dipasarkan karena memang pasarnya sudah ada dan kita hanya mengisi kekosongan yang mereka butuhkan.  Kang Ujang Koswara yang di tunjuk oleh Imam Besar The Panas Dalam Institue kang Pidi Baiq untuk menjadi guru besar The Panas Dalam Institute memberikan beberapa contoh inovasinya melalui slideshow dan video yang ditayangkan di layar ukuran 2×3 meter. Diantaranya bagaimana menyiasati kelangkaan BBM di daerah luar Jawa dengan mengaplikasikan bahan bakar gas 3 Kg sebagai pengganti bensin yang saat ini sudah diaplikasikan, gas 3 Kg bisa menempuh jarak sampai 600 KM, ada juga pompa air tanpa mesin yang dinamakan pompa setan, yang sudah diaplikasikan juga di daerah Sulawesi, dijelaskan juga mekanisme kerjanya yang hanya memanfaatkan aliran air dengan kecuraman 2 meter bisa memancarkan air sampai 30 meter, selain itu terinspirasi dari istrinya yang berjualan dengan menyewa toko tetapi hanya efektif 2 hari sabtu dan minggu saja, kang Ujang Koaswara memodifikasi motor untuk bisa dipakai berjualan dengan menambahkan box berbentuk kubus ukuran 2x2x3 meter, dan kang Ujang Koswara sendiri yang mendaftarkan jenis kendaraannya ke kepolisian, dengan system jemput bola seperti ini, maka tidak perlu lagi mengeluarkan uang sewa toko dan berjualanpun menjadi efektif. Yang terakhir kang Ujang Koswara memaparkan inovasinya yang sekarang menjadi bisnis usahanya yaitu lampu hemat energi dan bebas merkuri yang terbuat dari rangkaian lampu LED yang di design sedemikian rupa sehingga bisa menghemat pemakaian listrik 70 sampai 80% dengan ketahanan 10 tahun ( http://www.greenlinecare.com). Inovasi – inovasi seperti inilah yang ditawarkan The Panas Dalam Institute melalui kang Ujang Koswara untuk memberdayakan Masyarakat dengan mendapatkan penghasilan lebih tanpa bergantung dari bantuan pemerintah maupun berharap menjadi PNS. Tidak saja bisa memotivasi namun memberikan solusi dan diajarkan untuk bisa mengaplikasikannya sehingga rangkaian proses kreatifnya tidak terputus sebatas wacana saja.

Kang Ujang Koswara yang menjadi pembicara pada sesi pertama sedang memaparkan materi mengenai inovasi – inovasinya dalam membuat produk yang memberdayakan masyarakat.

Acara diskusi pada sesi ke 2 diisi oleh kang Pidi Baiq sebagai pencetus dan pendiri dari The Panas Dalam Institute yang akan diresmikan secepatnya menurut “ayah” panggilan untuk kang Pidi Baiq oleh penduduk The Panas Dalam. Dengan gaya santai dan penuh canda kang Pidi Baiq memasuki tempat diskusi, diawali sedikit perkenalan kepada para hadirin yang hadir,  Kang Pidi Baiq langsung memancing hadirin dengan gelak tawa mendengar ocehan khas ala Pidi Baiq. Siapa sangka bercandaan yang dilontarkan oleh kang Pidi Baiq sebenarnya mengandung makna dan pesan – pesan moral yang sebetulnya ringan dan biasa terjadi sehari – hari, namun kadang manusianya sendiri yang membuatnya sulit untuk menghadapinya. Seperti diungkapkan oleh Pidi Baiq bahwa hidup ini jangan terlalu dibawa serius, karena hidup itu adalah senda gurau karena kalau hidup terlalu dibawa serius maka dunia ini akan sepi dan monoton. Dalam kesempatan lain menjawab sebuah pertanyaan dari mahasiswa yang hadir yang menanyakan kenapa dalam tulisan dan twitter sering menyinggung masalah guru, kang Pidi Baiq menjawab dengan santai bahwa guru itu hanyalah status administrasinya saja, tapi dia kadang tidak suka menjadi dirinya sendiri dan terus mengangkat sisi gurunya, padahal mungkin kalau bisa menjadi dirinya sendiri, seorang guru pun akan lebih bisa dari sekedar status administrasinya saja. Dia mencontohkan bahwa sejak kecil Pidi Baiq adalah seorang anak yang nakal dan 4 kali dikeluarkan serta pindah sekolah, tapi itu disikapi dengan senang hati dan merupakan sebuah berkah karena bisa mendapat banyak teman dan kalau reuni  bisa diundang sampai 4 kali sambil tertawa dan di sambut tawa hadirin, kemudian lanjutnya bahwa menjadi nakal itu susah penuh keberanian dan tanggung jawab karena harus bisa bertanggung jawab kepada orang tua, guru atau polisi kalau ketangkap, tapi kalau untuk menjadi baik itu mudah tinggal duduk rapih dan diam, tapi itu tidak akan berkesan, kalau tidak ada yang nakal ketika sekolah menurut kang Pidi Baiq maka ketika reuni tidak akan ramai sambil tertawa. Pada kesempatan ini Kang Pidi Baiq juga akan menggagas Penampungan Anak Bolos karena  keprihatinan ketika melihat anak – anak yang bolos berkeliaran dijalanan tanpa tujuan yang jelas, sehingga kalau ditampung mungkin akan menjadi jelas, setidaknya ada tempatnya ungkapnya sambil tertawa.

Pidi Baiq dari The Panas Dalam Institute sedang sharing mengenai karya – karyanya di acara wedangan

Dalam kesempatan itu kang Pidi Baiq melontarkan tentang teori “ Pesimis Positif “ yang menjadikan orang – orang yang selama ini pesimis dengan pernyataannya maupun jawabannya, maka akan dibalik menjadi sebuah dorongan positif untuk menghadapinya sehingga sebisa mungkin orang yang telah membuatnya pesimis akan menyesal dikemudian hari dengan melihat keadaanya saat ini. Setelah kurang lebih 45 menit berselang, kang Pidi Baiq diminta untuk membawakan beberapa lagu The Panas Dalam diantaranya “ Jangan Takut “ yang ditulis ketika anaknya melihat tayangan – tayangan sinetron maupun film tentang religi namun lebih banyak setannya dibandingkan manfaatnya. Lagu selanjutnya yang dinyanyikan berjudul “lebok” (makan!!) lagu yang menceritakan tentang mantannya yang memutuskan dan kini mempunyai suami yang miskin sementara yang diputusin sudah kaya raya, terakhir lagu “ Tanpa Nia “, semua lagu yang dibawakan dibawa dengan santai dengan syair – syairnya nyeleneh namun sangat menghibur sehingga setiap syair dari lagu itu selalu disambut tawa hadirin yang memenuhi ruangan diskusi.

Pidi Baiq diminta membawakan lagu sebagai penutup acara Wedangan malam itu.

 

Tidak berasa hampir 3 Jam waktu yang disediakn panitia terasa kurang, tepat pukul 22.00 wib acarapun ditutup. Para peserta diskusi tampak puas dengan pemaparan materi dan Tanya jawab dari 2 narasumber yang hadir, terbukti dengan tidak ada yang beranjak pulang sampai acara selesai, bahkan diakhir acarapun para peserta tidak langsung pulang tapi langsung menyerbu narasumber untuk berfoto maupun minta tanda tangan dari narasumber, bahkan peserta yang masih penasaran dengan inovasi – inovasi yang dipaparkan oleh kang Ujang Koswara masih terus menanyakannya sampai mendapat jawaban yang lebih memuaskan. Acara diskusi yang menghadirkan The Panas Dalam Institute ini sangatlah berguna dan perlu untuk lebih disosialisasikan di daerah dan tempat lain, terutama daerah – daerah yang membutuhkan sarana dan prasarana dari Inovasi yang ditawarkan dari The Panas Dalam Institute supaya bisa langsung dipraktekkan dan diaplikasikan sehingga akan terasa langsung manfaatnya. The Panas Dalam Institute tidak saja memotivasi generasi muda Indonesia untuk lebih kreatif  dan produktif dengan berbagai macam inovasi yang bisa diciptakan namun The Panas Dalam Institute akan memberikan Solusinya serta pengaplikasiannya supaya bisa dirasakan langsung oleh masyarakat. Dengan menekan biaya produksi pabrik dan memberdayakan masyarakat sekitar.

Foto bersama sebagian peserta dan narasumber yang hadir

Walupun dengan gaya nyeleneh dan seperti tidak serius, namun The Panas Dalam Institute mempunyai pesan yang sangat mendasar bahwa kita diajak untuk tidak menjadi manusia KONSUMTIF jadilah manusia yang KREATIF dan PRODUKTIF sehingga kita tidak hanya dimanfaatkan oleh pasar tetapi kita sendiri yang akan memanfaatkan pasar. Mengingat banyak potensi besar yang bisa dimanfaatkan untuk memajukan ekonomi masyarakat Indonesia, The Panas Dalam Institute berharap kedepannya pemerintah bisa memfasilitasi lebih jauh lagi dan berperan aktif dalam mewujudkan ide – ide maupun Inovasi yang digagas The Panas Dalam Institute, dengan tidak mengambil keuntungan namun berharap dapat memberdayakan masyarakat sehingga pergerakan ekonomi masyarakat yang selama ini sebatas membeli dan menjual, maka akan diharapkan menjadi lebih produktif dengan bisa membuat apa yang selama ini dibeli.

 

Reblog dari Artikel