Limar, Lampu Penerang Alternatif

Limar, lampu ini seterang petromaks, tapi hanya menggunakan daya dari aki kecil. Limar berawal pada Juni 2006. Ketika itu, Ujang Koswara, 38 tahun, mengunjungi pusat perdagangan barang-barang elektronik di Bandung. Dia membeli sebuah telepon genggam yang bisa berfungsi sebagai lampu senter.

Pedagang kaki lima di Bandung kini memiliki lampu penerang baru. Limar namanya. Lampu ini seterang petromaks, tapi hanya menggunakan daya dari aki kecil. Limar berawal pada Juni 2006. Ketika itu, Ujang Koswara, 38 tahun, mengunjungi pusat perdagangan barang-barang elektronik di Bandung. Dia membeli sebuah telepon genggam yang bisa berfungsi sebagai lampu senter.

Tertarik dengan lampu senter itu, Ujang pun membongkar ponsel barunya tersebut. Ternyata isinya sebuah lampu berupa LED (light-emitting diode) dan baterai kering sebesar kacang kedelai. Lelaki kelahiran Garut, Jawa Barat, itu mendapat ide untuk membuat lampu penerang menggunakan LED. Dia pun membuat modifikasi. Awalnya berupa barisan lurus delapan LED. Tetapi sinar yang mengarah ke satu titik tidak sesuai dengan harapan.

Kemudian Ujang membuat rangkaian melingkar, dengan 21 unit LED. Dia menyusunnya serapat mungkin dengan formasi melingkar. Di ujungnya diberi dudukan lampu seperti biasa. Dudukan ini menghubungkan ke kabel, yang kemudian bisa dialiri arus listrik. Bentuknya menyerupai bola lampu. Namun sorotnya masih mengarah pada satu titik, tidak menyebar. Tapi, dengan memasang reflektor setengah lingkaran sebagai penutup rangkaian LED tadi, persoalan pun selesai. Sinar bisa menyebar.

Maka, jadilah Limar, dengan lima buah lampu, dengan daya dari aki kecil sepeda motor. Para pedagang keliling yang menggunakan gerobak tidak perlu mamakai lima lampu yang ada. Cukup menggunakan maksimal dua lampu, sudah cukup terang.

PLN menggandeng Ujang untuk menerangi daerah terpencil yang belum terjangkau listrik. Setiap minggu, warga yang memiliki Limar bisa mengisi aki ke motor keliling yang diilengkapi generator pengisi aki. Ujang mengklaim, lampu dengan arus DC buatannya itu hemat. Satu buah Limar hanya berdaya 1 watt. Artinya, bila pada satu rangkaian dihidupkan lima, lampunya hanya 5 watt.

Lampu Limar juga awet, baru putus setelah penggunaan rata-rata 50.000 jam. Sedangkan lampu hemat energi hanya tahan 5.000 jam. Daya tahan ini memang teruji karena LED sebagai bahan penerang utama memiliki daya tahan hingga 100.000 jam.

Ujang mematok harga buah karyanya Rp 750.000. Rinciannya, aki Rp 200.000, lima lampu LED Rp 250.000, kabel 30 meter Rp 60.000, terminal Rp 180.000, dan sebuah obeng. Limar gampang digunakan dan tidak memerlukan perangkat rumit. Untuk memasang dan membukanya, hanya dibutuhkan satu obeng. “Jadi, ini sangat simpel,” katanya.

Sulhan Syafi’i

 

Repost dari Artikel